awal | bukutamu | jurnal | galeri | poetry | thought | portfolio




Gunungsewu: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Potensi Wisata Untuk Konservasi

Gunungsewu, sebuah fenomena perbukitan kapur amat disakan masih belum begitu dikenal baik oleh orang-orang pada kawasan tersebut. Selama masih bertahan?menyimpan potensi dan prospek wisata dapat ditawarkan dari obyek-obyek: geologi, hidrogeologi, biologi, morfologi dan sebagainya. Menawarkan sebuah solusi elegan bersama-sama untuk membawa Gunungsewu menuju kemakmuran khasanah wisata: investor, pemerintah dan masyarakat sekitar Gunungsewu. Sebagai salah satu aspek dalam upaya konservasi.

ditulis 2002-01-12 23:46:50 WIB, dan dibaca 436 kali






Karst dan fenomenanya masih dapat dibilang jarang dikenali. Lebih disebabkan karena masih minim-nya publisitas terhadap fenomena karst itu sendiri. Padahal, jika di--gelitik- lebih dalam, karst merupakan sebuah fenomena alam menakjubkan-hasilnya serupa dengan sebuah karya seni kelas masterpiece, dipahat langsung dalam waktu ratusan tahun oleh alam! Bukan main fenomena dapat dikuak lebih dalam, sebut saja contoh sederhana sering disebut berupa: stalaktit, stalakmit serta pilar-pilar gamping terbentuk dari larutan gamping oleh air-semua bak ukir-ukiran. Disamping itu juga, fenomena-fenomena sungai bawah tanah begitu mempesona. Semuanya terkemas alami dalam istilah acapkali diungkapkan sebagai: goa (cave). Gua-berjanji untuk membawa anda kedalam sebuah dimensi dunia baru-lebih menyenangkan untuk disebutkan sebagai: the lost paradise-atau surga hilang.

Lingkup umum, belum lagi bila kita membahas mengenai fenomena dibagian permukaan dari karst itu sendiri. Ragam keajaiban sentuhan murni alam dapat diamati-dijelajahi dan senantiasa siap dinikmati kapanpun anda kehendaki, sebut saja gaya ekstreme: rock-climbing, caving, orientering, hashing dan cara lainnya untuk menikmati kawasan Gunungsewu phenomenous-tentu saja apabila masih dalam kondisi apa adanya-apalagi bila lebih didramatisir dalam arti dioptimalkan kondisinya. Fenomena ini sangat nyata, dapat dirasakan, dilihat, disentuh bahkan jika diinginkan dapat dikenali lebih dekat-dan akhirnya dimiliki untuk terus dikembangkan secara optimal.

Gunungsewu-sebuah pegunungan karst membujur dari Parangtritis hingga Teluk Pacitan, wilayah terbagi didalam kawasan DIY dan Jawa Tengah. Menyisir sepanjang pantai: Parangtritis, Ngerenean, Baron, Kukup, Drini, Krakal, Sundak, Wediombo dan Sadeng adalah lokasi sangat tepat dengan diskripsi diatas untuk lebih dikembangkan melalui sudut pandang konservasi.

Akhir-akhir ini bagi pemerintah daerah, fenomena gamping justru merupakan lahan eksploitasi-ditambang untuk dijual. Setelah otonomi daerah diberlakukan, masing-masing pemerintah daerah kemudian memperhitungkan kapasitas sumberdaya gamping didaerahnya sebagai salah satu jalan keluar untuk menutup kebutuhan rutin melalui pendapatan asli daerah. Sebagaimana diungkap oleh Eko Teguh dalam tulisannya.

Lalu sebaiknya bagaimana- Mari kita bakan bersama hal indah demi jalan keluar terbaik. Sumber daya alam maha indah nan potensial-telah diakui dunia pula; bahwa fenomena karst di Gunungsewu tiada tandingnya. Jalan terbaik adalah melalui konservasi kawasan Gunungsewu. Strategi harus lebih diluweskan dan digerakkan bersama dengan masyarakat. Harus disadari bersama pula, bahwa sesungguhnya suatu proses memang membutuhkan waktu untuk dapat berjalan sesuai harapan (dan tentu saja disertai banyak halangan). Sedangkan konservasi sendiri adalah sebuah proses melibatkan kesadaran banyak manusia dalam perwujudannya.

Agaknya semua harus diawali oleh tangan investor dan gencarnya kampanye pemerintah agar masyarakat Gunungsewu lebih mengenali potensi kawasannya sendiri. Bahwa kawasan Gunungsewu merupakan lahan memiliki prospek sempurna dalam dunia kepariwisataan di Indonesia dan dengan sedikit sentuhan tepat, akan siap tersaji sebagai paket wisata kelas internasional. Dilanjutkan dengan pengelolaan lingkungan seputar kawasan Gunungsewu berbasis masyarakat. Yaitu dengan membekali masyarakat untuk lebih membanggakan kawasannya dan bekerja sama dengan investor untuk kembali memoles kawasan Gunungsewu sebagai lahan pendapatan.

Terlebih apabila ditunjang pula dengan mengandalkan segi kebudayaan suku Jawa khas dengan keramah-tamahan, selain dukungan dari alam telah ada. Dengan tujuan pasti untuk lebih meningkatkan kemakmuran masyarakat sekitar secara merata, disamping meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan taktik tepat, agaknya akan lebih bersemangat apabila disusun sebuah acara untuk mempresentasikan kondisi dan prospek wilayah karst Gunungsewu kepada investor baik lokal maupun internasional oleh pemerintah dan masyarakat sekitar, didukung pula oleh orang-orang berkepentingan sehingga kemasan presentasi dapat benar-benar mengundang -sentuhan tangan- para investor.

Sepertinya masih memungkinkan, apabila ada sebuah wilayah dipetakkan secara khusus, kemudian digarap sehingga dapat mewakili seluruh fenomena karst Gunungsewu (meski secara keseluruhan)-sebagai lahan percontohan, dapat diuraikan dan di--unjuk-gigi--kan sebagai salah satu cara dalam menarik perhatian baik: masyarakat, pemerintah dan terpenting: para investor. Dari lahan percontohan ini, segala aspek baik dari hiburan hingga keilmuan dipersatukan. Sehingga mampu menyajikan segala aspek dari rancangan-rancangan, rencana-rencana, dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai tindak lanjut dan evalusi terhadap lahan percontohan dan uji kelayakan. Bilapun akhirnya gagal, masih tersisa sedikit bagian dari Gunungsewu masih tertinggal dan benar-benar dijaga dengan baik-meski dianggap sebagai kenangan. Senya: telah mencoba.

Tentu saja semua akan terlampau "indah" apabila investor-pemerintah-dan-masyarakat dapat saling bergandeng tangan untuk bersama-sama mengembangkan kawasan Gunungsewu, tetapi bukan: " mungkin"! Dengan siasat tepat, cara mengundang, atau menarik perhatian "tepat", maka-sepertinya semua hanya harus dipertemukan, saling mengutuskan wakil-wakilnya, membahasnya, merancang konsep tepat dan ber-"visi besar", bekerja sama untuk bersama pula memetik hasilnya. Gencar-berkelanjutan.

Menanamkan pemahaman bahwa konservasi bukanlah tujuan, melainkan cara dan gaya hidup keseharian kepada masyarakat kawasan Gunungsewu (meski dalam sebuah proses panjang dan kontinyu) adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah-masalah seputar kawasan Gunungsewu. Lebih jelasnya adalah membuat saat benar-benar paham kepada masyarakat sekitar (dan masyarakat luas pada umumnya) bahwa Gunungsewu sejatinya adalah sebuah kawasan potensial dapat diolah tanpa melulu hanya dari penambangan mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan----sementara justru merusak kekayaan alamiah, yaitu dengan cara dan melalui sudut pandang alternatif pariwisata pada dasarnya menjanjikan pendapatan lebih besar-tentu saja dengan konsep (dapat dikatakan relatif) "sempurna" (baca: terencana) diiringi pula bersama: campur tangan pemerintah, dan para investor-seiring dengan proses berjalannya waktu, untuk kemakmuran kawasan sekitar, dan Indonesia pada umumnya.





nama
email
lokasi
komentar




QBpPktNFhfWyZKsI said " bni2p3 qbjzcotajxuw, [url=http://cczamxilbyty.com/]cczamxilbyty[/url], [link=http://ptmfswkfvubn.com/]ptmfswkfvubn[/link], http://cwesktssejew.com/ ", printed on 2010-05-26 04:29:28




egagunawan.com egagunawanbudiutomo adalah milik linkasashasamirasellir, 2004 - 2010 - konsepdesainlayout WunderKund
Visitors: 14750 - hits: 182914 - User Online: 5