awal | bukutamu | jurnal | galeri | poetry | thought | portfolio




Stabilitas Ekonomi Masyarakat Srumbung: Agroindustri Salak Pondoh

Stabilitas ekonomi masyarakat Srumbung, lebih identik dengan kemampuan mereka membudidayakan lahan ada sebagai tempat menanam salak pondoh. Hasil investigasi memang membuktikan bahwa penanaman salak pondoh secara sporadis dengan swadaya penduduknya mampu mengangkat perekonomian mereka secara relatif lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

ditulis 2002-04-03 08:05:23 WIB, dan dibaca 669 kali






Sebuah Hasil Lokalatih Jurnalistik Investigatif :: Dusun Turgo Lereng Selatan Merapi, 29-31 Maret 2002

Stabilitas ekonomi masyarakat Srumbung, lebih identik dengan kemampuan mereka membudidayakan lahan ada sebagai tempat menanam salak pondoh. Hasil investigasi memang membuktikan bahwa penanaman salak pondoh secara sporadis dengan swadaya penduduknya mampu mengangkat perekonomian mereka secara relatif lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

* * *

Oleh:
Ega Gunawan Budi Utomo*)


* * *

Stabilitas Ekonomi Masyarakat Srumbung: Agroindustri Salak Pondoh


Bila kita diijinkan oleh masyarakat petani salak pondoh di Dusun Jrakah, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang untuk kembali berceloteh mengenai masa lalu, maka mereka lebih memilih bertutur mengenai era tahun sebelum 1985. Bagi kebanyakan dari mereka, tahun-tahun sebelum 1985 adalah tahun-tahun panjang menguntungkan dari sudut pandang pendapatan ekonomi swadaya penduduknya. Kemudian, seiring dengan bergantinya tahun, kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lahan mensaat kebun salak mensaat semakin marak. Tentu saja, karena semakin meningkatnya perekonomian penduduk.

Kelilingi saja seputar Dusun Jrakah, ada rumah dapat dibilang nyaman-tinggal (beton), sandang dan pangan cukup, suara tivi dan radio saat bertandang di mini-market mudah dijumpai, kemudian lalu-lalang kendaraan roda dua milik penduduk mengusung salak, bahkan juga beberapa waktu ada pemilik salak menaiki pick-up coltnya baru saja kembali dari pasar mendistribusikan salaknya.

Hal tersebut sangat didukung pula oleh kondisi geologi khas dari Dusun Jrakah tersebut, didominasi oleh material hasil pengendapan erupsi merapi tua, terutama mengandung unsur Sulfur. Sebagaimana mereka ketahui, unsur Sulfur tersebut sangat sesuai dengan kualitas salak dihasilkan selama ini. Didukung pula dengan: faktor cuaca dan suhu sesuai, karena kondisi Dusun Jrakah berada pada ketinggian antara 400–600 m diatas permukaan air laut.

Mereka begitu bangga dengan produk salak mereka, produk unggulan mereka banggakan dan ucapkan sebagai: Salak Pondoh Super: Srumbung— terkenal besar-besar, manis, dengan biji kecil, serta tahan lama. Dua tipe varietas berdasarkan warnanya: hitam dan coklat. Hitam lebih “rapuh” (baca: umur-simpan dan kulit luarnya) dibandingkan dengan coklat, dengan kualitas rasa tetap sama: MANIS! Hal ini menurut mereka lebih karena kualitas tanah ada dan letak ketinggian sangat tepat untuk tanaman salak tersebut.

Persaingan usaha salak antar penduduk dapat dikatakan sangat jarang tersaat, lihat saja betapa mereka justru saling membantu dan saling mendukung—terbukti dari solidnya perkumpulan para petani salak mengadakan pertemuannya setiap minggu—entah untuk sekedar ngobrol dan menjaga silaturahmi, maupun untuk secara serius membahas pengembangan usaha salak pondoh “super” mereka. Seperti diuraikan oleh Suwanto (40), “Kalau rutinnya, pertemuannya dilakukan setiap minggu di balai pertemuan, mas”, ungkapnya sebagai seseorang dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani di dusun tersebut.

Agaknya, komunitas kecil ada di Dusun Jrakah tersebut justru unsur solid, mungkin karena komunitas justru kecil tersebut, secara relatif berdampak memperkuat tali persaudaraan diantara mereka. Hal ini berarti, harga salak Dusun Jrakah terlampau jatuh saat panen raya berlangsung. Coba saja tengok harga normal salak pondoh Mutu A: non-panen raya seputar Rp 3.500,- perkilonya, sedangkan saat panen raya berlangsung, dihargai Rp 2.500,- hingga Rp 2.000,- perkilonya. Berbeda dengan tersaat dikawasan lain, seperti di Sleman maupun di Turi—salak andalan mereka jatuh hingga Rp. 1.500,- – Rp 1.000,-. Kenapa? Karena mereka punya produk unggulan, dapat dibanggakan, dan diinginkan pasar! Coba saja datang saat panen raya berlangsung: pertama kunjungi pasar Tempel tempat mereka mendistribusikan salak mereka, kemudian susul saja ke Dusun Jrakah, dan bergaya seolah anda seorang tengkulak, harga dapat mereka pertahankan dengan baik! Seperti mereka banggakan.

Beragam upaya peningkatan kualitas salak juga secara giat mereka lakukan, seperti: upaya kawin silang salak, pembibitan melalui cangkok, manipulasi pupuk (mengurangi penggunaan pupuk kimia), menghindari penggunaan pestisida, upaya cegah hama (tikus, tupai, ulat, dan sebagainya), dan tentu saja, penyegaran atau pengolahan lahan serta pengairan. Upaya peningkatan tersebut dengan sangat serius mereka gambarkan, menunjukkan bahwa mereka sangat antusias dalam upaya mengembangkan produk salaknya.

Distribusi salak saat panenan, dilakukan secara swadaya oleh petani salak. Meski kadang, ada juga para tengkulak memang bertandang kesana untuk memborong salak ada. Penggolongan mutu didasarkan atas ukurannya, Mutu A memiliki ukuran berdiameter = 6 cm, dan Mutu B sebaliknya—tetap dengan kualitas rasa dapat dikatakan: sama saja.

Begitulah, kondisi strategis, kemudian disadari dan dipahami dengan baik oleh para penduduknya, merangsang untuk merubah pola kerja produktif dengan pertanian salak pondoh, menggantikan pertanian padi atau ragamnya. Dampaknya lihat saja: mensaat sebuah wujud agroindustri sporadis dikalangan penduduk—solid dan relatif cukup tertata (managed) dengan baik. Karena mereka telah menyadari potensi wilayahnya, meski mensaat daerah rimbun dengan tanaman uang: salak pondoh.

Akan tetapi disatu sisi, ketertutupan komunitas tani salak pondoh kecil di Dusun Jrakah tersebut, mensaatkan rendahnya wahana publikasi terhadap prospek investasi tangan-tangan investor untuk lebih menyempurnakan manajemen distribusi dan pengembangan agroindustri salak pondoh di kawasan tersebut. Yang berakibat: rendahnya usaha ekspor salak pondoh ke luar negeri. Akan tetapi memang disatu sisi, mereka tetap dapat disalahkan, sebab swadaya tersebut dirasakan oleh penduduk sudah mampu mencukupi kehidupan keseharian. Meski akhirnya mensaat terkesan penduduk menutup mata bagi campur tangan investor untuk lebih membesarkan peluang dan pangsa pasar salak pondoh di mata dunia.

Jika campur tangan investor tersaat, memang akan ada dua kemungkinan: perekonomian penduduk dan swadaya salak pondoh akan semakin meningkat, atau malah sebaliknya. Lebih mirip perjudian saatnya. Tetapi bila campur tangan investor dan teknologinya tersaat, silahkan lirik pula peluang metamorfosa salak pondoh lain mensaat wujud-wujud industri hasil sentuhan masyarakat modern seperti: dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, dan sebagainya. Silahkan anda kreatifitaskan sendiri saja, si salak pondoh mensaat barang baru untuk konsumsi lebih modern.

Jika berbicara mengenai masa depan salak pondoh, agaknya pendekatan rekayasa-rekayasa tersebut, akan lebih menjanjikan peluang perluasan pasar agroindustri salak pondoh kepada scope lebih luas—syukur-syukur dikalangan internasional, dibandingkan dengan upaya konsumsi salak secara konvensional (kupas-makan).

Mungkin saat ini hal tersebut mensaat soal, jelas, penanaman salak pondoh secara sporadis di Dusun Jrakah, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, memang terbukti mampu meningkatkan perekonomian penduduk—secara stabil. Tetapi upaya tersebut tanpa campur tangan investor akan dilakukan sampai kapan? Kita lihat saja nasib si salak pondoh dengan metode konvensionalnya (kupas-makan).




*) Ega Gunawan Budi Utomo
Peserta Lokalatih Jurnalistik Angkatan I
29-31 Maret 2002, Turgo, Lereng Selatan Kaliurang





nama
email
lokasi
komentar




belum ada komentar



egagunawan.com egagunawanbudiutomo adalah milik linkasashasamirasellir, 2004 - 2010 - konsepdesainlayout WunderKund
Visitors: 14749 - hits: 182885 - User Online: 4