awal | bukutamu | jurnal | galeri | poetry | thought | portfolio




(KISAH SKEPTISME) JALAN YANG **DIPILIH**

Tuhan, kenapa jalan cahaya mereka (dan mungkin sama-sama kita) juga puji-puji dan elu-elukan, begitu rumit dengan kejelasan, ketamakan, keramaian, kegaduhan, tuntutan, rantai perbudakan, dan seperti biasa: keributan? Sehingga tak lagi nampak jalan terang kau terang-terangi? Sementara mereka kutuk, mereka bilang jalan kegelapan, begitu damai, tenang, dan ... diam tetapi terasa sekali bahwa ia hampa?

ditulis 2004-03-07 02:33:07 WIB, dan dibaca 332 kali






[ scene one - the visit ]

Suatu hari, sebuah tanya muncul:

"Saat cahaya mulai membentang; mengapa semua kemudian mensaat gaduh? Sementara mereka bilang dengan jalan kegelapan adalah jalan terkutuk. Tetapi kenapa kutukan itu, kegelapan itu, terasa begitu misterius (tetapi begitu sangat dekat dengan-Mu?), begitu tenang (apakah karena begitu dekat dengan-Mu?), diam (tapi tak hampa; apakah lagi-lagi karena begitu dekat dengan-Mu?), dan begitu siluman, sehingga kadang ... terasa begitu damai?", lalu tiba-tiba aku merasa sangat ketakutan... karena seorang wakil kegelapan tiba-tiba datang dengan kelembutan, tulus tak bertopeng..., menunjukkan bungkusan doa sama..., dan sebuah surat cinta...

[ scene two - the blur lines ]

Hingga saat bangun pagi telah tiba; diterbitnya matahari kulihat orang-orang dengan yakin dan pasti, kembali mengenakan topeng-topeng mereka, menderukan dan mengayuh kendaraan mereka, atau melangkahkan kaki-kaki mereka, untuk selanjutnya memeras keringat mereka, memeras pikiran mereka, dan diteriknya mentari, masih juga kulihat orang dengan rakus memakan makanannya--- tentu, semua adalah berkah-Mu, dan katanya, saat dalam iringan kekuatan cahaya-Mu. Ketamakan-ketamakan, kemunafikan-kemunafikan, kadang juga memaksaku, mengenakan topeng sama.

[scene two - take one] Tetapi ketika sore hari menjelang, semua orang nampak begitu (ingin) damai dalam lelah mereka, melangkah dalam lesunya sisa energi. Kurasa sekali, bahwa mereka begitu (ingin) merindukan ketenangan; hingga malam kau janjikan dengan gelapnya berkunjung; dan tak lagi kulihat kerakusan---cahaya telah dimunafikkan... Lalu kau berikan kegelapan, agar semua kembali terkendali, agar tetap Kau kendali?

Lalu, mereka menanggalkan semua topeng-topeng mereka, didepan anak-anak mereka, didepan isteri-isteri mereka, didepan sodara-sodara mereka (untuk menipu diri mereka sendiri, bahwa mereka sebenarnya ingin menemui-Mu). Untuk selanjutnya kau kurung dalam kegelapan, hingga "kekuatan cahaya" kembali berkunjung dipagi hari... menerus, dan berulang. Tuhan, aku ketakutan... Kenapa seperti biasa, seolah kau hanya diam, dan membiarkanku membuat pilihan, sendirian? Dan saat ini aku begitu khawatir, sebab seolah Engkau selalu saja, mengembalikan semua kepada manusia, untuk membuat semua pilihan ini seolah sudah atas nama-Mu, atas segel-Mu, atas restu-Mu!!! Sementara wakil kegelapan tiba-tiba ingin memaafkan karena aku pernah mengecamnya..., maka kini kami hadir tanpa topeng, menanggalkan semua: topeng kemarahan, topeng dendam, karena kecam tak pasti... saat itu pula, kurasakan semua mahluk kegelapan juga menanggalkan topeng-topeng mereka, hampir bersamaan, dihadapan-Mu, memohon semua mensaat lebih baik.

[scene two - take two] Kami sekedar ingin mengingat lewat malam gelap; sang kegelapan sebagai sebuah "cahaya tak tampak mata" itu sendiri, untuk senantiasa merasakan kehadiran-Mu, lewat "mata-mata ketiga" kami. Menyentuh kami semua, mengkasihi kami melalui ketenangan kami Kau paksa sebagai sisa dan pengisian energi itu sendiri; lewat ketenangan dan bawah sadar kami. Maka kami kemudian sadar, saat malam tiba ... semua begitu tenang, damai ... hampa dan sunyi, tetapi kosong. Kegelapan, dimana saat semua roh ditakut-takuti lewat mimpi baik dan mimpi buruk, saat dimana semua roh saling bertautan, menanti dan mencari kepastian, hanya pada-Mu. Saat itu, saat dimana kami sama-sama bersujud, dan aku mewakili lain, benarkah Engkau tersenyum wahai Tuhan kami? Tuhan ku, dan para mahluk kegelapan telah kau takdirkan ini? Hanya aku dan mereka, disaksikan oleh semua kerlip bintang-bintang kiasan ini? Juga hamparan padang kunang-kunang kau kelilingkan pada kami?

[ scene three - the vacuum ]

Hari ini (malam ini), aku sangat ketakutan, jika jalan kedamaian, jalan penuh ketenangan adalah saat berada pada kegelapan, dan aku sedikit khawatir sepertinya aku jatuh cinta pada kegelapan... Maka kemudian, Aku sedikit khawatir mereka akan mengecamku sebagai mahluk kegelapan!!! Dan aku ketakutan, untuk berkata bahwa aku juga jatuh cinta pada kegelapan! Yang kini tak lagi tertahankan! Dan aku ketakutan, pada berkah-Mu, berkah kau berikan pada kami, para manusia, dan mengatasnamakan diri-Mu, wahai Tuhan... melalui pilihan-pilihan kami, melalui kehendak kami, berkah terbesar pernah Kau berikan pada manusia, setelah pikiran dan daya kreasi...

Sementara saat ini, aku benar-benar sadar, tanpa topeng... bahwa saat hitam pekat, gelap gulita, aku menjumpai-Mu; terasa begitu dekat---terlampau dekat, lewat tahajud mungkin sekali telah ku modifikasi... dengan cara dan jalan ku kreasi sendiri.

[ scene four - the epilog ]

Saat ini, di malam ini, terasa sekali seolah diriku ingin berkata bahwa ini ucapan-Mu, tapi aku sadar, aku tak mungkin bisa dekat dengan-Mu, karena begitu kotor dan hinanya diriku. Lalu aku sekedar ingin pasti, karena aku tahu Kau pernah berkata, melalui utusan-utusan-Mu, bahwa kematian, sebenarnya kau janjikan indah, lewat penghakiman-Mu dari semua nilai derma dan proporsi Kau hakimkan pada kami, dan Kau terima sebagai amal dan ibadah pada-Mu, tapi semua uji dan coba Kau berkahkan pada kami, tak pernah sejenis, tak pernah sama rata... Lalu, kami hanya ingin diam sejenak ini saja, membiarkan kami semua menerima bahwa Engkaulah Segala Maha...

Lalu, saat harus dikunjungi oleh semua kau beri hidup: kematian. Saat episode itu tiba, aku tahu bahwa kungkungan kegelapan akan selamanya membungkus roh-roh, mensaat lebih halus bahkan lebih halus dari roh-roh halus Kau cipta, lebih halus dari manusia pernah kira... Roh kami, manusia akan mensaat lebih dari sekedar satu hati, dengan kegelapan itu sendiri, tapi kami tahu, cahaya pasti, hanya dari-Mu. Sinar itu... kesejukan... dalam kegelapan kami, dan kami begitu menagih..., merindukan-Mu.

[ scene five - the core of the epilog ]

Tuhan, ampunilah hamba, karena pada hari gelap ini, aku kembali lagi jatuh cinta pada mahluk kegelapan, menuliskan surat cintanya padaku..., dan dengan bungkusan doa sama denganku, kemudian mempertemukan kami malam ini. Menginginkan dan mengijinkan aku memahami rasa-rasa "cinta" mereka kepada-Mu, meski kau telah mengutuk mereka, tetapi dendam telah kau terapkan pada mereka, adalah karena cinta-Mu pada mereka... Dan dalam derita dan kecaman telah kami tujukan kepada mereka pula...

Tapi kini aku tahu, mereka para manusia sepakati sebagai para mahluk kegelapan juga mencintai-Mu, seperti aku mencintai-Mu, meski aku dan mereka para mahluk kegelapan tahu, mungkin Kau pernah ingin dekat dengan ciptaan-Mu... mereka telah melakukan apa engkau perintahkan, menggoda dan mejerumuskan para manusia dalam jalan sesesat-sesatnya, "sebaik" dan seupaya mereka mampu..., agar dapat segera kembali lagi pada-Mu... dan kami tentu ingin saling mengalah... Dan dengan Maha Kesombongan-Mu, kami berdua sangat bersyukur, telah kau ciprat-cipratkan cahaya-cahaya (meski telah dimunafikan), dan kegelapan-kegelapan ( juga telah dimunafikkan), kau tepiskan begitu saja, karena ke Esa-an dan ke Maha-an-Mu.... dan juga pasti lewat restu-Mu, mempertemukan kami, dalam sebuah sudut kerinduan sama: pada kunjungnya cinta-Mu.

Aku tahu, aku memilih berada pada sisi sore... (entah dengan mereka para mahluk kegelapan). Menikmati lembayung senja tak panas, tak terik, tetapi tak juga lembab dan tak juga dingin... untuk hanya sekedar agar senantiasa tersadar, bahwa aku berada telak di sisi-Mu, dan tiba-tiba aku tak paham, apa itu hitam dan putih..., dan dimanakah batas itu... Karena kami berdua sepakat tahu, bahwa mungkin kau tak pernah ingin dekat dengan ciptaan-Mu..., sebab kami telah berupaya dengan upaya terbaik kami, sesuai perintah-Mu, tapi jawaban-Mu tak juga kunjung tiba..., kenapa harus nanti, wahai Tuhanku?

Mungkin aku tak lagi peduli, wahai Tuhan kami. Tak peduli Engkau tak memperhatikanku, memperhatikan kami. Sebab, aku sendiri merasa cukup berdamai sudah, lewat berada dikedua sisi tersebut, untuk merasa, seolah-olah aku dan mahluk kegelapan ini, begitu dekat dengan-Mu. Aku tak peduli walau harus berpura-pura pada diriku sendiri, bahwa aku tak pernah membenci-Mu, melainkan menjejalkan paksa bahwa aku, kami benar-benar mencintai-Mu. Sebab, aku dan mahluk kegelapan ini sepakat, lewat janji di kegelapan ini, bahwa kami akan memaksa diri kami untuk terusan mencintai-Mu, meski seolah Kau tak pernah ingin dekat dengan kami..., meski cinta kami pada-Mu, akan bertepuk sebelah tangan saja...

Sehingga kami, hanya terpaksa memiliki sesembahan kotor ini sebagai doa, tuk saling menyatukan jiwa-jiwa kotor kami, memohon pada-Mu, agar menyantuni kami dan jiwa-jiwa kotor kami, lewat jalan-jalan pilihan kami, dengan menanggalkan topeng-topeng kami, hanya dihadapan-Mu... dalam kegelapan, dalam kehampaan, dalam kenistaan karena memang hanya itulah tersisa pada diri kami...

Tuhan, kali ini, aku akan membiarkan rasa cintaku pada-Mu akan menjawab semua tantangan telah Kau berikan padaku---pada kami, meski kami berdua tahu, cinta kami pada-Mu, hanya bertepuk sebelah tangan..., memohon-mohon belas kasihan-Mu, dan kami telah siap menerima dampak karena kami bertepuk sebelah tangan dalam mencintai-Mu. Dan saat ini, aku bergandengan tangan, menunduk berusaha damai dan memperkosa diri kami sendiri, sehingga lebih dari pilu, dan berucap memohon bahwa betapa kami mencintai-Mu, disertai pula dengan gengaman dingin dan hampa, mahluk kegelapan ciptaan-Mu. Agar kehidupan semua manusia, baik memilih hitam atau putih, senantiasa tetap ada dalam jalur telah Kau letakkan (dan mungkin kau ubah pula kapanpun), karena kami tahu, bahwa kami hanya memiliki rasa cinta ( kotor tapi kami suci-sucikan) ini saja, dan memasrahkan semuanya kepada-Mu..., serta kami tegas ingin memastikan bahwa kami sedang berputus asa; tetapi berdoa, saat bersedih, maka kami akan berpura-pura, bahwa kegelapan dan cahaya sedang berdamai, sehingga kebahagian sesaat ini akan Engkau terima, agar seolah membentuk keajaiban sore hari dan lembayung senjanya... Serta memohon dengan sepenuh jiwa kotor kami, terutama berkah sebagai manusia untuk mampu membuat pilihan tepat dan sesuai, dalam restu dan tuntunan-Mu...

[ end of manuscript ]

======

PS: ... he-he, gue emang udah gila..., dan kayanya dengan pikiran diatas itu, gue emang ready buat loe djap gilaaaaa abizz... :-)





nama
email
lokasi
komentar




belum ada komentar



egagunawan.com egagunawanbudiutomo adalah milik linkasashasamirasellir, 2004 - 2010 - konsepdesainlayout WunderKund
Visitors: 14750 - hits: 182910 - User Online: 4