awal | bukutamu | jurnal | galeri | poetry | thought | portfolio




Jika Bumi Sudah Lagi Nyaman Dan Aman

Katakan, suatu hari saya bertanya, "Jika Bumi sudah lagi menginginkan kita, apa harus dilakukan, sementara semua sudah sangat terlambat?". Jangan tanyakan kenapa, karena saya akan terus memaksa: "kenapa ?"--menatap memohon pada anda, untuk menjawab pertanyaan tersebut, tanpa terlebih dahulu membaca lebih dalam. Well?

ditulis 2004-12-03 22:44:03 WIB, dan dibaca 363 kali






Keberlanjutan kehidupan?

Konsepnya sih, menarik. Tapi saat enggak se-cute itu, kalau sudah beneran dijedot-jedotkan sama realitas. Ragam pilihan dipilih, dikombinasi waktu, ditambah juga dengan reaksi berantai sebab-akibat atas pilihan; membuat dinamikanya mensaat messed-out-up-down-blown-banished-gone!

Pak Mendel, munculkan konsep tentang Fraktalnya pun, mbok dicontohkan dengan Laura's-set pun (aslinya: Julian set, tapi pas otak kepleset), juga sama saja---NGAMBANG. Tunas cantik memang, tapi namanya chaos, dari nilai 1 sampai pasangan "n" (baca: end; nilai akhir) pun, ya tetap saja: CHAOS (aslinya, gara-gara tertarik sama chaos, mungkin kena efek samping otak-saat-chaos...---makanya saya akhir-akhir ini benar-benar cari pola pas dengan jati diri saya!). Terus, dibuat juga hukum dan aturan biar enggak kaco, tapi celakanya, enggak cuman hukum; duit, waktu, dan kesempatan pun, dikorupsi. Apa ikutan korupsi sekalian aja, ya?

Enggak jauh-jauh, kok... Indonesia, katanya sih sedang membangun (entah apa dibangun), katanya juga kaya raya, la sugih endi-ne, wong tahunya Indonesia negara dengan utang bejibun (ngedol negoro, sesuk paling)... Juga, katanya sih mayoritas Islam, ndisik jare malah ada berniat nsaatkan negara Islam... Ouchhhh, negara muslim, tapi dikorupsi enggak cuman duit! Tak melok korupsi pisan ae..., lah gimana, wong biar dianggap sedang ikutan cara Islam paling trendy dan terbaru... (tapi enggak pingin tiru-tiru miskin, gak enak! gak bisa nyoba, ngewujudkan, sampe mberi banyak hal sih...).

Ada banyak konsep (cuantik-cuantik!---bikin langsung jatuh cinta saat itu juga!). Tapi enggak ada blas, bisa kawinan ketemu klop (kalo manusia, kawinan mana, murni klop ya?---ada gak sih, hidup berpasangan dalam pelangi melulu?), sehingga beranak saat konsep baru integratif beneran bisa functional without any errors, and both without any indication of new potential collateral damage(s). Konsep ketemupun, kalo enggak saat jenuh, ya karena terpaksa kawin (diperkosa, kali)---atau kowan-kawin lagi, akhirnya dibaru-barukan. Ada gap kaya ngumpet gak mau ditemukan---nglicin---seolah pengetahuan tak direstui, jika kita sama-sama berbenah (apapun juga) terlebih dahulu. Seperti manusia jaman sekarang, nyoba nyari siapa monya. Pak Darwin bilang, manusia evolusi dari hirarki semacam kera. Alamak! Tiba-tiba, kok saat inget cerita tentang Nabi Ismail, eh, Tarzan ajah deh... :-) "Auuuuuooooooo"...

saat geli, inget Tarzan; keberlanjutan kehidupan saat kaya angan-angan. saat terasa seperti ambang punah--- berbeda dengan ambang punah hewan-hewan akhirnya dianggap spesies langka, tentunya dengan sumber ancaman berbeda, dikotaki ide manusia sendiri, dan lagi-lagi karena manusia---**LAGI!** Korban aturan, korban postulat... Weh..weh... Hanya, tipe kasusnya bukan sekedar ekspansi populasi spesies manusia; bukan masalah apalagi bisa dijual setelah alam, atau nyawa manusia, atau nyawa binatang, atau serpisan layanan apapun juga... Laaa... ruang tempatnya, apalagi waktu, sudah lagi ada, jeeeeee...

Contoh? Weeeeeeeh... tunas indikasinya banyak sekali, kan? Salah satunya? Dari paling jelas didepan mata saja, cetho melok-melok, misalnya, kalo lapangan kerja cekak, tapi niat kerja bejibun. Weh-weh..., yo pancen rebutan... saat inget, ngelihat orang-orang rebutan sembako... marai wedi tur mrinding... Cuman agar bisa bertahan hidup! Agar bisa hidup sewajarnya! Belum gue sendiri enggak dong, diurusan: ekonomi, politik, sosial, budaya, hankam kita (ASLI, GUE SENDIRI ENGGAK DONG! BESOK MAU MAKAN APA AJAH, GUE BENGONG-NGONGGG!!!), mood pingin saat ayam jago semua... Pada takut bunyi "pethok-pethok-tooook-thok" khawatir dikira ayam sayur..., malah pada ngimpi dulu-duluan ber-"kukuruyuk", eh, tapi sore-sore... weh-weh... ayam jago saat-saatan... wah... kacooooo... Malu dulu aaaahhhhhhhh (soalnya, saya tahu, saya ayam sayur..., dan saat ayam sayur itu enggak enak!!!).

Gimana mau berlanjut hidup? Lah, punya kapital selalu menang. Enggak heran dan saat ikutan orang-orang pada teriak-teriak stip-dan-stop kapitalisme. Weh-weh... ngono yo ngono, ning ojo ngono ... Eh, jareeee sih... Sing sugih soyo sugih, tur turu nang kasur duit go-go, sing mlarat mati dewe, ning duwur lemah mbuh nggone sopo; jare lemahe sing baureksa---duhhhh..

Jenuh?

Kalau maksa buat diobok-obok SAMBIL NYOBA NGEBERESKAN, mestinya karena apa akhir-akhir ini mau enggak mau dilihat, amat, dan mungkin saat wawas---atau, mungkin gara-gara frustasi dengan beberapa hal sedang saya coba lakukan, tapi juga ada rasa seolah mampu membuat perbedaan secara jelas... Seenggak-enggaknya, memberikan makna dalam hidup kelilingan saya (dalam parameter tujuan berdasarkan diri saya---semua berjalan terlalu lambat!). Seolah, jika kita segera menyadarinya, untuk selanjutnya mencurahkan semua fokus dan kemampuan serta kapasitas kita untuk lebih memperhatikan cara berinteraksi kita di Bumi (sesama manusia, pun!), maka ... (please fill the dots jo self!).

Kalau sempat, atau sesekali lah, yuk, mari bersila santai, mejamkan mata, narik nafas panjang---hembuskan pelan, lalu mencoba merasakan pompa darah kita berdetak, dan penuh-penuh merelaxkan tubuh, serta... lepaskan hukum materi tentang wujud. Kemudian, berba-ba kita sedang mela, tinggi; dan lebih tinggi lagi, keatas, dan akhirnya keluar dari Bumi. Apa kini dilihat? Bulatan biru, digores-gores kumulus. Indah? Ayolah...

Juga, yuk, berandai kita sedang menggenggam satu kaset maha panjang, merekam penuh tentang semua catatan perjalanan manusia di muka Bumi. Setelah dimasukkan dalam maha player dan di "play", sambil nekan tombol "rewind" pada player fantasi. Pelankan frame-motionnya, sambil tetap di "rewind". Mestinya, masa lalu terlalu berbeda dengan saat ini. Iya deh, jelas berbeda, jika kita membatasinya dengan bungkus-bungkus varian produk material membuatnya berbeda--- disebut lebih modern, trendy, atau apalah kita menyebutnya. Tetapi garis tegas dinamika umumnya, masih sama! Masih dengan perulangan kesalahan sama, masih dengan perulangan pencapaian hal-hal sama. Heheheh, bahkan paling tipikal, masih dengan cara bekembang-biak sama, dan tetap dianggap membosankan! Bosan pun, tinggal memodifikasi kamasutra..., cari surga-dunia, kok sampai kechetit---kesleo---walhasil, encok saat kumat...

Kali yeee???? Urip/Hidup: Ujian Moral, kali yaaaa???

Kalau saya, dan dengan keterbatasan kemampuan pikir saya dalam mengeneralisir semua ajaran agama---satu hal sepertinya saat tegas. Semua urusan **moral** (adjustment between the good and the bad---into its balance). Sekedar semacam pencarian atas: "moral-murni" seperti apa passed the tests. Laaaa... ujian-Nya, semua urusan moral. Puncaknya, malah dikaprahkan, sampai ijin berperang, atas nama putih melawan hitam! Weleh... enggak-ku-ku... Padahal, pengkotakan hitam dan putih, hanya sekedar ide manusia... Lebih mirip pendekatan-pendekatan pengetahuan bahkan mungkin telah sedang kita dapatkan, jelajahi, cari, dan temukan lagi, dan membawa kita hingga saat ini, entar dalam dan diposisi apapun...

Kalau dilepaskan dari obok-obok manusia, semuanya saat lebih tenang! Tuhan enggak butuh agama dan manusia; sementara, manusia dengan free-will-nya, kebebasan berkehendak dan memilih, sering bentrok dengan agama. saat, sebenarnya Tuhan enggak dirugi, juga enggak untung apapun dengan agama, atau juga, enggak butuh dianggap. Sementara manusia, masih saja merasa dirugikan dengan agama. Terus siapa untung?

BUMI untung!

Siapa lagi, kalo bukan BUMI! Bumi untung! Wong mesti enggak buru-buru dikiamatkan... Natural, ndamping dengan semua bakterinya..., berkesinambungan... bahkan mensaat lebih cantik; karena saat itu, manusia sadar butuh Bumi, dan Bumi butuh manusia (enggak kiamat-kiamat, dong!), saling memahami telak-telak bahwa pencapaian selanjutnya, diawali saat ini, disini, di Bumi---lestari.

Saya terlalu yakin, bahwa kematian, seharusnya, bukan lagi sesuatu menyeramkan, tetapi satu-sama-lain, antara manusia, mensaat saling menyelamatkan..., karena moral-murni didapatkan dari sekolahan disebut: hidup di Bumi. Saya yakin, itu!

Celaka sudah, kalau dianggap wajar, jika saat kita mendapatkan jawaban, adalah saat kita sudah DEATH---DECEASED---EXTINCT---punah; saat itu, kita mungkin hanya sekedar berkata "mpun kadung, Ndoro Gusti"! Lah bola-bali, Tuhan nyiptakan manusia berulang-ulang, enggak juga bisa passed the moral test... Kalau kita adalah pegawai dan bekerja untuk Tuhan dengan baik, pastinya bakal dapat promosi dan bonus.

Kalau kita kerja buat manusia ( seolah saat "tangan" Tuhan-Baik dan Tuhan-Buruk sesaat), ya tinggal penuhi saja hasrat 7-imoral-terbesar ada dalam diri manusia, mestinya, promosi dan bonus, bakalan lancar; paling , standarnya, konon hanya manajemen ngatur-ngatur, dan njaga penerapan dosis-dosisnya dengan tepat, cekat, akurat, saat ngelakukan, sehingga pas, dan bisa diterima trend, norma, etika, dan malah mungkin juga aturan agama... Seenggaknya, parameter modifikasinya harus terlalu causing collateral-damages, musti diolah dengan cekaknya masing-masing pikiran kita meski lumrah diakui, sudah begitu corrupt-nya.

Kalau urusan sama Tuhan, promosi dijanjikan, mestinya yaaa... MATI, atau dibonusi KIAMAT sisan, laaaaah mpun wayahe... Itu pun, iya, kalau Tuhan peduli, wong sudah diuji dengan dipasrahi dan dititipi ngelola Bumi ajah dengan moral dan dengan pendeknya umur manusia (meski umur manusia lebih pendek dari bumi, tapi lihat deh, akibatnya), malah mawut..., eh sudah gitu... masih ngimpi minta surga..., ya dunia, ya akhirat.

Gara-gara ngimpikan kiamat, lalu masuk neraka, saya saat kepikiran: Kalo didepan Tuhan kita ini cuman semut; eh boro-boro semut, malah mungkin serpihan juuuuuauh lebih kecil dari unsur materi terkecil apapun; wong kita memperlakukan semut seperti itu... Ehhhh..., terus kaya apa ya; Tuhan mesti memperlakukan kita, dulu, kemarin, sekarang, besok, dan suatu hari nanti?




PS:

Tuhan, ega capekkkkkkkk.... minta bonus dan promosinya, boleh enggak? *_^ Yaaaahhhh, kok belum boleh? ^_^ Ya sudahlah, tapi, jangan tinggalkan daku, meskipun daku nakal, yaaaaaaaa... Terus, kalau daku lupa pada-Mu, diingetkannya, jangan sakit-sakit, yaaaaaa...

:: Saya cuman korban globalisme memang, awut-awutan!... :-)





nama
email
lokasi
komentar




SHMbKFfsQqzIgwuKRwN said " Axsb6p uccwlomfbrvx, [url=http://ylrkujwpzzzp.com/]ylrkujwpzzzp[/url], [link=http://vnirthiqvath.com/]vnirthiqvath[/link], http://vbkwetqjbpjo.com/ ", printed on 2010-05-26 03:24:22




egagunawan.com egagunawanbudiutomo adalah milik linkasashasamirasellir, 2004 - 2010 - konsepdesainlayout WunderKund
Visitors: 14800 - hits: 183676 - User Online: 5